Charles Wright Mills

NAMA : WINANDA RIZKY ANNISA
NIM : D0313081
KELAS : SOSIOLOGI A

Didalam menganalisa ataupun melihat pokok permasalahan yang menyangkut masyarakat, Mills mengungkapkan perlu menggunakan imajinasi sosiologi, maksudnya kemampuan untuk melihat realitas mendalam dari hidup dalam konteks struktur sosial secara umum. Sebagai seorang ahli teori yang tidak pernah mengenyampingkan prinsip-prinsip psikologis, ia mencoba mengaitkannya dengan masalah sosiologis dan struktur. Mills mencoba menerangkan bahwa dalam imajinasi sosiologi merupakan kemampuan untuk memahami sejarah dan biografi serta hubungan-hubungan di antaranya dalam masyarakat. Imajinasi sosiologi ini ditulis dalam karya Mills dengan maksud untuk membedakan antara personal trouble dengan public issue. Karena pada dasarnya imajinasi sosiologi merupakan gabungan dari dua cara penelitian, yaitu makroscopiks yang berhubungan dengan keseluruhan struktur sosial dalam cara perbandingan yang beruang lingkup sama dengan ruang lingkup ahli sejarah dunia sehingga mencoba menampilkan tipe-tipe fenomena historis dan secara sistematis menghubungkan berbagai lingkungan institusional masyarakat yang kemudian dikaitkan dengan tipe-tipe manusia yang ada.
Sedangkan cara yang kedua yaitu molecular yang ditandai oleh masalah-masalah dengan skala kecil dengan kebiasaan menggunakan model verifikasi statistik. Sehingga, Mills menyatakan perlunya imajinasi sosiologis untuk melihat dan menganalisis perubahan di masyarakat dan mampu melihat realitas yang mendalam dari hidup kita dengan konteks struktur sosial secara umum, untuk memahami sejarah dan biografi hubungan keduanya dengan masyarakat.
Mills tidak hanya mengungkap tentang imajinasi sosiologi saja, ia juga berusaha mengungkapkan bahwa kesulitan ekonomi yang dialami oleh kaum pekerja pada masa lampau berakar pada permasalahan alienasi kaum pekerja dari apa yang mereka kerjakan. Saat alat-alat produksi atau mesin di era kapitalis mulai bermunculan, yang dahulunya masyarakat masih bisa merasakan pekerjaan mereka dengan hasil usaha mereka sendiri, namun setelah alat-alat produksi tersebut mengalami perkembangan yang pesat dan menyebar, manusia kurang menikmati hasil usahanya dan inilah yang dikatakan sebagai keterasingan atau alienasi. Mills mengakui bahwa kelas menengah berkembang sebagai penunjang yang tidak diharapkan oleh produsen dan kelas pekerja upahan. Seperti misalnya, kelas menengah baru yang telah berkembang di dalam masyarakat Amerika, diantaranya adalah para manager, buruh upahan, salesman, serta pekerja kantoran. Mills menyebutnya sebagai kelas pekerja berkerah putih yang menurutnya adalah pekerja yang semakin kehilangan kekuatan pribadinya yang ditandai oleh keterasingan kerja yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ditambah dalam masyarakat modern, mereka yang memegang kekuasaan sering menggunakan kekuasaan tersebut secara sembunyi dengan tujuan melakukan manipulasi-manipulasi. Sehingga Mills menilai bahwa birokrasi itu identik dengan manipulasi. Sistem-sistem yang rasional menyembunyikan kekuasaan mereka sehingga tidak seorang pun yang mengerti perhitungan-perhitungan mereka. Karena bagi birokrasi dunia itu adalah obyek daripada manipulasi.
Isu tentang keterasingan tersebut oleh Mills digunakan sebagai pusat kajian tentang kelas menengah Amerika. Keterasingan pekerja upahan dari hasil kerjanya dibawa selangkah lebih dekat ke arah penyelesaian ”kafka-like”. Maksudnya karyawan yang diberi upah tadi tidak membuat apa-apa walaupun ia mampu menangani sejumlah hal yang sangat diinginkannya, tetapi itu tidak pernah bisa. Karena keterasingan dari setiap hasil pekerjaannya tersebut, akibatnya mereka menggunakan waktu luang mereka dengan hasil yang palsu dan berperan serta dalam kegembiraan semu yang tidak bisa memberikan ketentraman dan rasa bebas. Mereka yang bekerja atau dalam hal ini karyawan berkerah putih hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam pekerjaan mereka, dan secara tidak langsung mereka tidak memahami makna pekerjaan yang mereka lakukan.
Bila pada masa lampau mereka para pekerja atau karyawan hidup dengan membuat sesuatu atau mengerjakan sesuatu sebagaimana halnya petani atau nelayan, namun dalam dunia bisnis dan pemerintahan yang semakin besar, para pekerja ini bekerja dengan mengubah sesuatu yang telah dibuat oleh orang lain dan menjadikannya sumber keuntungan. Oleh sebab itu, Mills sangat mengecam kapitalisme dan birokrasi modern, karena keduanya menyebabkan alienasi dalam diri para pekerja atau karyawan di dalam proses pekerjaan dan di dalam hasil-hasil kerja mereka sendiri. Penekanan Mills terhadap alienasi muncul dari keprihatinannya terhadap hubungan antara karakter dan struktur sosial. Menurut dia, secara politis orang bersikap apatis karena penekanan media masa yang terlalu berlebihan pada hal-hal yang bersifat basa-basi dan karena orang dijauhkan dari tradisi-tradisi dan akar-akar budaya.
Perubahan dalam kelas berkerah putih semenjak tahun 1900 pada umumnya menunjukkan keruntuhan posisi mereka, terlihat saat hilangnya prestise bilamana dibandingkan dengan pengusaha lama, merosotnya pendapatan riil ini terlihat bahwa upah mereka lebih rendah daripada pendapatan rata-rata berbagai kelompok pekerja upahan dalam berbagai kasus penting, mekanisme jabatan yang mengancam eksistensi juga bisa memicu runtuhnya posisi mereka. Selain itu, pembatasan otonomi pekerja kantor, banyak pekerja karyawan berkerah putih itu bersifat rutin dan membosankan, hanya ada sedikit harapan untuk membangkitkan minat kerja kantor di masa yang akan datang. Kehidupan kelas menengah lenyap saat daya tawar atau bahkan kekuatan politik pada karyawan kelas menengah ini tidak memiliki kesanggupan bebas dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri, tak terkecuali yang profesional pun.
Di negara Amerika selain maraknya permasalahan alienasi juga terdapat elite-elite yang mengatur masyarakat, dimana mereka ini adalah kelompok kecil yang secara rutin melakukan interaksi dan memiliki tujuan serta kepentingan yang sama. Meskipun mereka berasal dari kelompok kecil namun mereka bisa menjadi sekelompok yang berkuasa dikarenakan anggota-anggotanya mempunyai posisi kunci institusional sehingga bisa memerintahkan otoritas yang besar, sumber-sumber secara khusus dan sektor-sektor penting lainnya yang saling berhubungan satu sama lain. Penggambaran mengenai kekuasaan elite ini bisa digambarkan dalam bentuk yang namanya piramida kekuasaan, dimana bagian puncaknya diduduki oleh mereka kelompok elite yang berkuasa, yaitu pemimpin yang menguasai 3 sektor hierarkis kekayaan perusahaan, orang yang paling kaya dan juga mereka orang yang menanamkan saham pada suatu perusahaan. Misalnya saja pemimpin eksekutif atau presiden dan para menteri nya atau mereka yang memiliki jabatan di sektor militer seperti para jenderal TNI. Kemudian pada lapisan kedua diduduki pemimpin opini lokal, cabang legislatif pemerintah, dan berbagai kelompok kepentingan. Bisa dikatakan pada lapisan ini melakukan tawar-menawar bagi elite-elite yang berkuasa. Dan pada lapisan terakhir atau ketiga adalah masa yang tidak memiliki kekuasaan dan orang-orang yang tidak terorganisasi yang dikontrol oleh kekuasaan-kekuasaan yang di atas baik secara ekonomi maupun politik, sehingga pada lapisan ini banyak pihak-pihak yang dieksploitasi oleh lapisan-lapisan diatasnya.
Bisa dikatakan kekuasaan nasional yang paling utama saat proses pengambilan keputusan-keputusan penting terletak di tangan para pemimpin bisnis dalam bidang ekonomi, pemimpin politik, serta para militer. Keputusan-keputusan yang mereka ambil bisa mempengaruhi kehidupan semua orang yang berada khususnya pada tingkat kekuasaan yang lebih rendah. Dalam hal ini terdapat setidaknya dua faktor yang menyebabkan kemunculan kekuasaan elite. Pertama, alat kekuasaan dan kekerasan yang saat ini jauh lebih besar daripada yang ada di masa lalu. Kedua, sifat saling ketergantungan diantara para elite yang merupakan hasil dari faktor struktur sosial yang dapat dilihat secara historis, dimana bentuk dan derajat sentralisasi institusi ekonomi, militer, dan politiknya sangat besar. Sehingga besar tingginya sentralis tergantung pada teknologi modern yang ada dalam bidang produksi, administrasi, serta komunikasi.
Kelompok elite juga bisa dikatakan sebagai unit kesadaran diri secara kohesif yang didasarkan pada 3 faktor yakni kesamaan psikologis, interaksi sosial, dan kesamaan kepentingan. Interaksi yang searah dan sama akan memudahkan mereka terhubung satu dengan yang lainnya karena mereka akan terlibat dalam seperangkat kelompok yang bersifat saling tumpang tindih. Bila dalam hal kesamaan kepentingan, maka kepentingan yang sama tersebut yakni menjaga sistem kapitalis. Mereka mengharapkan pemerintahan berpihak pada mereka dalam pembuatan suatu peraturan atau kebijakan dalam rangka berdagang untuk mengambil keuntungan. Kepentingan yang sama ini akan menghasilkan sebuah kesatuan dan kebutuhan untuk perencanaan dan koordinasi langkah-langkah mereka.
Mills juga berbicara mengenai teori keseimbangan, lagi-lagi dia mengungkapkan bahwa orang Amerika sangat tergantung pada ide bahwa pemerintah layaknya mesin otomatis yang bisa diatur oleh keseimbangan persaingan kepentingan. Dalam masyarakat Amerika, mereka beranggapan bahwa kongres dijadikan sebagai pengawas presiden, sedangkan kedudukan Mahkamah Agung berfungsi untuk mengatur sebagai keseimbangan kekuasaan yang bisa dipertahankan. Tetapi, dalam kenyataannya kekuasaan kongres terpotong sedangkan kekuasaan presiden semakin membesar.
Selain itu, Mills memperkenalkan teori tentang check and balance yang ternyata hanya berlaku selama tahap historis tertentu. Diungkapkan bahwa, sistem kekuasaan itu mencerminkan keseimbangan masyarakat sering mengacaukan masa sekarang dengan masa silam sejarah Amerika dan mengacaukan tingkat atas dan bawah sistem kala itu, dengan tingkat menengahnya. Mills menyatakan bahwa di masa kini hampir tidak mungkin memisahkan bisnis raksasa dengan pemerintahan yang kuat, dan kekuasaan militer yang kian naik sejak perang dunia kedua. Struktur militer Amerika saat ini dikatakan sebagai bagian terpenting dari struktur politik. Ini diakibatkan adanya pergeseran fokus elit kekuasaan dari masalah-masalah nasional ke isu-isu internasional, sehingga memberikan suara lebih besar kepada para pemimpin militer dalam proses pengambilan suatu keputusan.

Daftar Pustaka
Dwi Susilo, Rahmad. 2009. 20 Tokoh Sosiologi Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Poloma, Margaret M. 2013. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.
Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2014. Teori Sosiologi – dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana.

George Caspar Homans

NAMA : WINANDA RIZKY ANNISA
NIM : D0313081
KELAS : SOSIOLOGI A

Perlu diketahui bahwa awalnya Homans merupakan ahli fungsionalisme struktural, terbukti dengan karyanya yang berjudul The Human Group (1950) yang menerangkan tentang struktur, proses, dan fungsi kelompok kecil dengan sangat kompleks. Meskipun demikian, ia ingin melakukan perbaikan pada teori fungsional yang dianggapnya sebagai kekurangan dari teori tersebut. Homans memandang teori fungsional yang telah mengabaikan studi tentang individu dan hanya bertumpu pada organisasi atau struktur serta tujuan atau fungsi dari sistem yang besar atau kecil. Disana individu hanya dianggap sebagai orang yang menduduki status atau posisi dan sebagai pelaksana atas peranan yang ada pada status atau posisi yang dia peroleh. Sehingga pada tahun 1950-an ia tidak lagi menggabungkan dirinya dalam teori fungsional struktural dengan alasan kegagalan pendekatan teori tersebut dalam menjelaskan fenomena sosial, yang kemudian muncul teori lanjutan yakni teori pertukaran yang merupakan suatu usaha untuk menggerakkan bahasan tentang peranan individu dalam sistem sosial, karena pentingnya individu sebagai pelaku dalam masyarakat.
Pada dasarnya teori-teori pertukaran sosial itu berlandaskan atas prinsip transaksi ekonomi yang elementer, dimana seseorang menyediakan suatu barang atau jasa yang kemudian ia mengharapkan memperoleh barang atau jasa yang diinginkan, ini disebut sebagai imbalan. Para tokoh sosiologi telah berasumsi bahwa interaksi sosial yang terjadi antar seseorang sama halnya dengan transaksi ekonomi, dimana akan ada suatu imbalan yang diharapkan individu atas individu lainnya. Tetapi dalam pertukaran sosial tidak selalu dapat diukur dengan materi atau uang saja, karena dalam berbagai transaksi sosial yang dipertukarkan tidak hanya hal-hal yang bersifat nyata seperti pemilik pabrik konveksi yang sedang berinteraksi dengan karyawannya dapat menjalin hubungan kerja sama diantara keduanya, dimana pemilik pabrik akan memperoleh hasil pekerjaan dari karyawan tersebut, sedangkan sang karyawan akan mendapatkan ganjaran atau imbalan nyata berupa upah. Ada juga transaksi yang dipertukarkan bersifat hal-hal yang tidak nyata, seperti ganjaran dari sebuah persahabatan, kepuasan, atau mempertinggi harga diri. Pada intinya model timbal balik dalam pertukaran sosial tetap akan ada selama orang memberi dan memperoleh imbalan barang atau jasa.
Bagi Homans, bukan hanya status dan peranan yang berasal dari fungsionalisme yang menyediakan mata rantai antara individu dan struktur sosialnya, oleh karena struktur atau lembaga-lembaga demikian itu terdiri dari individu-individu yang terlibat dalam proses pertukaran barang yang baik berwujud materi maupun non-materi. Homans percaya bahwa proses pertukaran ini dapat dijelaskan melalui lima pernyataan proposisional yang saling berhubungan. Pernyataan proposisional yang dimaksud adalah proposisi, karena melalui proposisi itu banyak perilaku sosial yang dapat dijelaskan.
Proposisi Sukses. Inti dari proposisi ini ialah bahwa seorang individu dalam melakukan setiap tindakan dan semakin sering suatu tindakan tersebut memperoleh ganjaran, maka akan semakin sering pula individu tersebut mengulangi tindakan tersebut. Homans percaya bahwa prinsip-prinsip elementer yang serupa dapat diterapkan pada tindakan manusia. Secara umum, perilaku yang selaras dengan proposisi sukses meliputi tiga tahapan, yakni tindakan seseorang, hasil yang diberikan, serta pengulangan tindakan asli atau minimal tindakan yang dalam beberapa hal menyerupai tindakan asli. Namun, perlu diingat meskipun imbalan yang semakin sering dilakukan mendorong peningkatan frekuensi tindakan, situasi timbal balik ini tidak mungkin berlangsung tanpa batas. Karena dalam beberapa hal seorang individu sama sekali tidak dapat terlalu sering berbuat demikian. Semakin pendek interval antara perilaku dan imbalan, maka semakin besar kecenderungan seseorang mengulangi perilaku tersebut. Dan pada akhirnya, Homans berasumsi bahwa imbalan secara tidak teratur lebih cenderung menyebabkan berulangnya perilaku daripada imbalan teratur. Imbalan yang diberikan secara teratur mengakibatkan rasa bosan dan muak, sementara imbalan pada interval tidak teratur cenderung menimbulkan berulangnya perilaku.
Proposisi Stimulus. Apabila suatu peristiwa yang terjadi pada masa lalu dimana tindakan seseorang mendapatkan ganjaran, maka akan semakin mirip stimuli yang ada sekarang ini dengan yang lalu itu, akan semakin mungkin seseorang melakukan tindakan serupa atau yang hampir mirip. Misalnya saja seorang anak yang belajar untuk ujian sekolahnya. Di masa lalu dia pernah mendapatkan ganjaran berupa nilai yang baik dan mendapatkan pujian dari kedua orang tuanya. Dari pengalaman masa lalunya tersebut sebagai stimulus. Sehingga bisa dikatakan bahwa stimuli dapat kurang lebih sama dengan apa yang terjadi pada masa lalu, dan proposisi Homans menyatakan bahwa stimuli yang hampir sama akan dipilih untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Dalam stimulus ini dia tidak lupa menyinggung tentang proses generalisasi, dimana kecenderungan untuk memperbanyak perilaku pada situasi serupa.
Proposisi Nilai. Semakin tinggi nilai yang ada pada suatu tindakan, maka akan semakin senang individu melakukan tindakan tersebut. Proposisi ini berhubungan langsung dengan ganjaran atau hukuman yang merupakan hasil tindakan. Yang dibahas pada stimulus ini ialah tingkat dimana orang menginginkan ganjaran yang diberikan oleh stimulus. Homans ingin memperkenalkan konsep imbalan dan hukuman. Imbalan adalah tindakan yang bernilai positif, sehingga meningkatnya imbalan akan lebih cenderung menghasilkan perilaku yang diinginkan. Sedangkan hukuman adalah tindakan yang bernilai negatif, dimana semakin meningkatnya hukuman itu menyatakan bahwa aktor kurang cenderung menampilkan perilaku-perilaku yang tidak diinginkan. Homans menganggap pemberian hukuman merupakan cara yang tidak memadai untuk memaksa orang agar merubah perilaku mereka, karena orang dapat bereaksi terhadap hukuman dengan cara yang tidak diinginkan.
Proposisi Deprivasi – Satiasi. Semakin sering individu menerima imbalan tertentu, maka semakin kurang bernilai imbalan yang selanjutnya diberikan kepadanya. Proposisi ini kemudian menyempurnakan kondisi-kondisi dimana penampilan suatu tindakan tertentu mungkin terjadi. Singkatnya Homans ingin mengatakan bahwa kunci utama dari proposisi ini adalah kejenuhan dengan ganjaran tertentu. Deprivasi-kejenuhan berkaitan dengan apa yang diberi nilai pada suatu waktu tertentu. Selain itu, Homans juga ingin mengatakan bahwa ada dua konsep dalam stimulus ini, yaitu ongkos dan keuntungan. Ongkos dalam suatu perilaku dikatakan sebagai imbalan yang hilang dalam alur tindakan alternatif yang tengah berlangsung. Sedangkan keuntungan dalam pertukaran sosial dipandang sebagai jumlah imbalan yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin besar keuntungan yang diterima sebagai akibat dari tindakan, semakin cenderung seseorang menjalankan tindakan tersebut.
Proposisi Agresi – Pujian. Ketika tindakan seseorang tidak mendapatkan imbalan yang diharapkan, atau menerima hukuman yang tidak dia harapkan, maka individu tersebut akan marah dan akan cenderung berperilaku agresif, yang kemudian berakibat pada perilaku tersebut menjadi lebih bernilai untuknya. Pasti kita berfikir bahwa tindakan amarah yang dilakukan individu tersebut tampaknya merujuk pada kondisi mental. Ketika seseorang tidak memperoleh apa yang ia harapkan, ia dikatakan mengalami frustasi. Namun frustasi dari harapan-harapan tersebut tidak harus hanya merujuk pada kondisi internal, karena bisa saja merujuk pada peristiwa-peristiwa yang sepenuhnya eksternal yang tidak hanya dapat diamati oleh diri individu itu sendiri namun juga oleh orang diluar individu.
Proposisi Rasionalitas. Ketika memilih tindakan alternatif, seseorang akan memilih tindakan, sebagaimana dipersepsikannya kala itu, yang jika nilai hasilnya dikalikan probabilitas keberhasilan adalah lebih besar. Proposisi rasionalitas secara terang-terangan menunjukkan pengaruh teori pilihan rasional. Bila dalam bahasa ekonomi, individu yang bertindak menurut proposisi rasionalitas sedang memaksimalkan keuntungannya. Karena pada dasarnya seseorang melakukan kalkulasi atas berbagai tindakan alternatif yang tersedia baginya. Homans mengaitkan proposisi rasionalitas dengan keberhasilan, stimulus, dan proposisi nilai. Proposisi rasionalitas mengatakan bahwa benar tidaknya orang akan melakukan tindakan tergantung pada persepsi mereka tentang probabilitas sukses. Persepsi tentang peluang sukses tinggi atau rendah ditentukan oleh sukses di masa lalu dan kemiripan dengan situasi masa kini dengan situasi sukses di masa lalu.
Di dalam teori pertukaran sosial tentu akan mengalami yang namanya ketidak sesuaian akan harapan yang diinginkan oleh seorang individu atas individu lainnya. Pertukaran sosial yang tidak seimbang ini akan mengakibatkan adanya perbedaan diferensiasi kekuasaan, dimana salah satu diantara individu-individu tersebut akan ada pihak yang merasa lebih berkuasa dan mempunyai kemampuan untuk menekan, secara otomatis pihak yang lain akan merasa dirinya ditekan dan dikuasai. Diferensi kekuasaan ini tidak hanya terjadi dalam lingkup individu antar individu saja, melainkan juga bisa terjadi dalam suatu kelompok. Dalam kelompok akan terjadi persaingan antarindividu, dan tiap individu yang bersaing akan berusaha memperoleh kesan yang lebih menarik dibandingkan dengan individu yang lain, yakni bisa dengan cara menarik perhatian orang-orang sekitar agar menaruh perhatian lebih terhadap dirinya. Cara menarik perhatian orang-orang sekitar juga bisa dengan kepandaiannya, kejujurannya, kesopanannya, ataupun kebijaksanaannya. Sehingga dari tiap-tiap kelompok akan ada individu yang menonjol satu diantara yang lainnya dan muncullah kekuasaan, dalam artian ada pemimpin dan ada yang dipimpin dalam satu kelompok tersebut.

Daftar Pustaka
Lawang, Robert M. Z. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid II. Jakarta: PT Gramedia.
Poloma, Margaret M. 2013. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: CV. Rajawali.
________________. 2014. Teori Sosiologi – dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana.

Robert King Merton

NAMA           : WINANDA RIZKY ANNISA

NIM                : D0313081

KELAS          : SOSIOLOGI A

 

Seorang tokoh sosiologi yang merupakan murid dari Talcott Parsons, sehingga tidak heran bila pendekatan-pendekatan yang ia gunakan juga bersifat fungsionalisme. Meskipun dianggap sebagai murid yang setia namun tidak semua yang dikatakan oleh Parsons diterima Merton. Dia menambahkan atau melengkapi teori-teori Parsons dengan teori-teorinya sendiri. Bila Talcott Parsons lebih menggunakan apa yang disebut sebagai grand theory, Merton menganggap teori ini terlalu muluk dan abstrak serta bersifat positif, sehingga ia mengkritik dan menyusun teori-teori yang bersifat lebih terbatas dan menyebutnya sebagai middle – range theory atau teori taraf menengah berisi asumsi-asumsi yang dapat ditarik hipotesanya kemudian diuji secara empiris dengan menggunakan data. Sehingga Merton berkeyakinan bahwa terdapat konsekuensi negatif di dalam setiap tindakan karena tidak semua tindakan yang dilakukan akan berdampak positif dan ini bisa dibuktikan melalui penelitian secara empiris.

Sebelumnya Parsons mempunyai pandangan bahwa semua institusi itu berfungsi secara baik dalam masyarakat. Dalam pandangan Merton, ada hal-hal yang tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, ia menyebutnya sebagai disfungsi. Ada dua pemikiran mengenai disfungsi ini. Yang pertama tentang sesuatu itu bisa mempunyai akibat yang secara umum memang tidak berfungsi. Dan yang kedua, akibat-akibat ini mungkin saja berbeda menurut kepentingan orang-orang yang terlibat. Oleh karena itu untuk pemikiran yang kedua ini, ada baiknya bila para ahli menanyakan berfungsi atau tidak berfungsi untuk siapa.

Analisa mengenai disfungsi dapat menyangkut jangka pendek maupun jangka panjang. Perspektif jangka pendek bisa mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang disfungsional. Sedangkan untuk jangka panjang dapat digambarkan dengan analisa disfungsi-disfungsi tertentu bisa dari kemajuan teknologi. Selain itu adanya berbagai kepentingan yang saling bertentangan antarkelompok dan organisasi yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat kompleks seperti kelangkaan sumber-sumber bisa fungsional untuk satu kelompok dalam satu masyarakat, namun bisa jadi disfungsional bagi kelompok yang lainnya. Misalnya saja, revolusi industri yang menyebabkan tenaga-tenaga buruh tergantikan oleh tenaga mesin. Mungkin bagi pihak pabrik adanya mesin-mesin ini dianggap sebagai fungsional karena bisa saja mendatangkan keuntungan yang berlipat bagi pemiliknya. Namun, bagi kaum buruh ini merupakan disfungsional karena meningkatkan pengangguran.

Mungkin pada akhirnya teori taraf menengah ini dapat disatukan ke dalam suatu kerangka teoritis yang lebih luas, yang kemudian teori ini dapat digunakan untuk menghasilkan hipotesa-hipotesa prediktif yang dapat diuji secara empiris dalam bermacam-macam konteks atau tidak. Merton menekankan tindakan-tindakan yang berulang kali dan baku ada hubungannya dengan bertahannya suatu sistem sosial dimana tindakan itu ada. Dalam hal ini Merton tidak berorientasi subyektif individu yang terlibat dalam tindakan itu, melainkan pada konsekuensi-konsekuensi sosial obyektifnya. Terdapat pembedaan yang jelas antara motif-motif subyektif seperti tujuan atau orientasi individu dengan konsekuensi sosial obyektif yang muncul dari tindakan itu. Pembedaan antara motif dan fungsi ini dinyatakan Merton dalam perbedaan antara fungsi manifest dan fungsi latent. Fungsi-fungsi manifest adalah konsekuensi-konsekuensi obyektif yang menyumbang pada penyesuaian terhadap sistem yang dimaksudkan dan diketahui oleh partisipan atau singkatnya akibat-akibat yang orang harapkan dari suatu tindakan sosial atau situasi sosial. Sedangkan fungsi-fungsi latent adalah yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui.

Merton memandang masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi sehingga didalamnya terdapat seperangkat aturan dan nilai yang dianut oleh mereka. Dengan cara sistem kerja yang stabil tersebut akan mengarah kepada keseimbangan dan cenderung mempertahankan sistem kerja demikian. Sehingga dia menjelaskan bahwa analisisnya tentang strukrural fungsional ini memusatkan pada kelompok, organisasi, masyarakat dan kultur. Ia menambahkan bahwa setiap objek yang dapat dijadikan sasaran analisis ini tentu mencerminkan sesuatu yang berpola dan berulang

Dengan analisa tentang masyarakat yang demikian, Merton juga mengkritik tiga dalil postulat yang sebelumnya sudah pernah ada. Pertama, adalah postulat tentang kesatuan fungsional, masyarakat yang disebutnya sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerja sama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak bisa diatasi atau diatur. Postulat ini sebenarnya mengungkapkan bahwa semua keyakinan dan praktik kultural dan sosial yang sudah baku adalah fungsional untuk masyarakat sebagai satu kesatuan maupun untuk individu dan masyarakat. Pandangan ini tidak langsung mengungkapkan bahwa berbagai bagian sistem sosial pasti menunjukkan integrasi yang tinggi. Namun, Merton berpendapat bahwa meski hal ini kemungkinan besar dapat diterima dan benar bagi masyarakat primitif yang kecil, namun generalisasi tidak dapat diperluas lagi ke tingkat masyarakat yang lebih luas dan kompleks.

Kedua, adalah fungsionalisme universal. Postulat ini menyatakan bahwa seluruh bentuk kultur, sosial dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi-fungsi positif. Merton menyatakan bahwa postulat ini bertentangan dengan apa yang ditemukannya dalam kehidupan nyata. Tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan dan lain sebagainya mempunyai fungsi yang positif atau lebih dikenal dengan konsep disfungsi. Misalnya saja tentang nasionalisme fanatik yang tidak akan menjadi fungsional lagi bila berada dalam dunia yang sedang mengembangkan teknologi senjata nuklir. Merton menyarankan agar elemen-elemen seperti kultural harus dipertimbangkan lagi menurut kriteria keseimbangan konsekuensi-konsekuensi fungsional, sehingga menimbang fungsi positif relatif terhadap fungsi negatif.

Ketiga, adalah postulat tentang indispensability. Postulat yang menyatakan bahwa semua aspek masyarakat yang sudah baku tidak hanya mempunyai fungsi yang positif, tetapi juga menggambarkan bagian-bagian yang sangat diperlukan untuk berfungsinya masyarakat sebagai satu kesatuan. Postulat ini mengarah pada pemikiran bahwa semua struktur dan fungsi secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Ia menyatakan bahwa tidak ada struktur dan fungsi lain mana pun yang dapat bekerja sama baiknya dengan struktur dan fungsi yang kini ada dalam masyarakat. Dengan mengikuti Parsons, kritik Merton adalah bahwa ingin mengakui akan adanya berbagai alternatif struktur dan fungsional yang dapat ditemukan di dalam masyarakat.

Teori Merton yang juga terkenal adalah membahas tentang hubungan antara kebudayaan, struktur sosial dan anomi. Merton mendefinisikan kebudayaan sebagai serangkaian nilai normatif teratur yang mengendalikan perilaku yang diberlakukan sama kepada seluruh anggota masyarakat atau kelompok tertentu. Sedangkan bila serangkaian hubungan sosial sudah menjadi teratur dan memengaruhi anggota masyarakat tertentu dikatakan sebagai struktur sosial. Anomi akan terjadi ketika terdapat disjungsi akut antara norma-norma dan tujuan kultural yang terstruktur secara sosial dengan kemampuan anggota kelompok untuk bertindak menurut norma dan tujuan tersebut. Durkheim mengambil sebuah kesimpulan bahwa masyarakat yang berada pada terlalu banyak atau kurang dari peraturan akan berpengaruh pada tingkat bunuh diri yang agak tinggi. Ikatan yang terlalu kuat terhadap kehidupan yang kolektif memicu tingkat bunuh diri yang tinggi. Dengan kata lain, ketidaksesuaian antara tujuan dan alat adalah disfungsional untuk kelompok-kelompok populasi itu dimana ketidaksesuaian itu terdapat, dan konsekuensi ketidaksesuaian itu sering dikatakan sebagai perilaku menyimpang. Teori Merton ini sering digunakan dalam analisa yang berhubungan dengan usaha untuk menjelaskan kejahatan dan kenakalan dimana sudah diasumsikan bahwa penyimpangan itu disfungsional untuk masyarakat.

Selain Parsons, pengaruh Weber juga dapat dilihat dalam batasan Merton mengenai birokrasi. Merton mengamati beberapa hal dalam organisasi birokrasi modern. Ia menyatakan birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas pula. Kegiatan-kegiatan itu secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi. Jabatan-jabatan didalam organisasi diintegrasikan ke dalam keseluruhan struktur birokratis dan status-status dalam birokrasi ini disusun secara hierarkis, dengan begitu berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi ini dibatasi oleh yang namanya aturan-aturan yang mana bisa dikatakan bahwa otoritas terletak pada jabatan, bukan lagi pada orang. Oleh karena itu, hubungan-hubungan antara orang-orang ini dibatasi secara formal. Hal ini untuk menjamin keberlangsungan kepercayaan dan koordinasi dalam mencapai tujuan organisasi itu. Merton mengemukakan bahwa satu konsekuensi disfungsional dari kepercayaan yang terlampau besar terhadap peraturan adalah bahwa kaum birokrat itu akhirnya melihat kepatuhan terhadap peraturan sebagai tujuan dan akibatnya mereka tidak mampu menyesuaikan dengan tantangan situasi baru ini. Akibat dari ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau mengubah peraturan agar cocok dengan situasi yang baru adalah pencapaian tujuan utama dalam organisasi itu akan terhalang. Menurut Merton, kepatuhan terhadap adanya aturan tersebut adalah baik, namun perlu diingat bahwa manusia tidak boleh dikorbankan demi sebuah aturan.

Daftar Pustaka

Argyo Demartoto. 2007. Mosaik dalam Sosiologi. Surakarta: UNS Press.

Craib, Ian. 1986. Teori-teori Sosial Modern – dari Parsons sampai Habermas. Jakarta: Rajawali.

Lawang, Robert M. Z. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid II. Jakarta: PT Gramedia.

Poloma, Margaret M. 2013. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2014. Teori Sosiologi – dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir  Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana.

INTERVENSI SOSIAL

Intervensi sosial dapat diartikan sebagai cara atau strategi dalam memberikan bantuan kepada masyarakat. Biasanya ruang lingkup intervensi sosial ini ada pada bidang pekerjaan sosial dan juga kesejahteraan sosial. Menurut Argyris (1970), Intervensi merupakan kegiatan yang mencoba masuk ke dalam suatu sistem tata hubungan yang sedang berjalan, hadir berada di antara orang-orang, kelompok ataupun suatu obyek dengan tujuan untuk membantu mereka. Tujuan utama adanya intervensi sosial yakni untuk memperbaiki fungsi sosial kelompok sasaran perubahan. Bila kondisi fungsi sosial seseorang itu baik maka berimplikasi pula pada kondisi kesejahteraannya. Sehingga intervensi sosial sendiri bisa dikatakan sebagai upaya membantu masyarakat yang mengalami gangguan baik secara internalnya maupun eksternalnya yang menyebabkan seseorang itu tidak dapat menjalankan peran sosialnya sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat.

Intervensi itu sendiri bisa dikategorikan menurut pendekatannya, yaitu pendekatan secara mikro yaitu pemberian pelayanan atau bantuan yang diberikan secara langsung berdasarkan penanganan kasus demi kasus, pendekatan secara mezzo yaitu pemberian pelayanan atau bantuan bagi keluarga-keluarga dan kelompok-kelompok kecil, dan yang terakhir ada pendekatan secara makro yang mengupayakan perbaikan serta perubahan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Banyaknya cara pendekatan ini sesuai dengan sasaran intervensi yang antara satu dengan lainnya pasti berbeda dan membutuhkan cara yang berbeda pula dalam menangani masalah sosial yang ada. Karena pada dasarnya dalam intervensi sosial setidaknya ada 6 prinsip-prinsip dasar. Akseptans, prinsip ini memberikan tuntunan kepada penyantun agar pada pertemuan awalnya dengan klien, si penyantun dapat menerima apa adanya penampilan dari si kliennya. Individualisasi, seorang individu pasti memiliki keunikan yang berbeda dengan individu yang lain, oleh karena itu pemberian bantuan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan klien. Komunikasi, pemberi bantuan wajib untuk merekam segala informasi yang ada sehingga kemudian komunikasi dalam bentuk non-verbal ini akan berguna untuk melengkapi informasi yang disampaikan secara verbal. Partisipasi, diharapkan sesudah pemberian bantuan ini, penyantun melatih klien secara bertahap untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalahnya sendiri. Rahasia Jabatan, pihak pemberi bantuan dihimbau untuk merahasiakan segala informasi mengenai identitas klien beserta segala permasalahannya. Dan yang terakhir, Self-awareness, prinsip yang terakhir ini mengingatkan pemberi bantuan untuk tidak bersikap sombong dan takabur dan masih berpegang pada deskripsi tugasnya.

Dalam intervensi sosial dikenal adanya empat sistem. Yang pertama dikenal dengan Sistem Pelaksana Perubahan, yang mana sekelompok orang memberikan bantuan berdasarkan keahlian yang beragam, bekerja dengan sistem yang beragam pula dan secara profesional. Yang kedua ada Sistem Klien, merupakan sistem yang meminta bantuan, memperoleh bantuan, dan terlibat dalam pelayanan yang diberikan oleh Sistem Pelaksana Perubahan. Selanjutnya ada Sistem Sasaran, yaitu orang-orang atau organisasi yang berpengaruh dalam tercapainya tujuan dari perubahan. Dan yang terakhir adalah Sistem Aksi, dimana orang-orang bersama dengan pelaksana perubahan berupaya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga dapat tercapai tujuan-tujuan perubahan.

Tahapan dalam intervensi sosial pada dasarnya merupakan salah satu bentuk tahapan dalam Community Work. Tahapan-tahapan yang terjadi dalam intervensi tentu saja bukan merupakan tahapan yang kaku dan harus dilaksanakan tahap demi tahap secara urut, tetapi lebih merupakan tahapan yang luwes.

Tahapan pertama disebut dengan Fase Persiapan (Preparation). Tentu saja seorang community worker harus melakukan persiapan-persiapan sebelum dia terjun pada suatu kelompok atau komunitas. Setidaknya mereka harus mempunyai gambaran mengenai komunitas yang akan mereka tangani, bagaimana keadaan sosial-geografisnya, sehingga mereka tidak akan kebingungan lagi apa yang akan mereka lakukan setibanya dilokasi karena sudah menyiapkan segala sesuatunya. Dasar-dasar pengetahuan tentang komunitas yang akan dikunjungi bisa diperoleh dari surat kabar, jurnal, buku-buku atau laporan penelitian yang ada. Tidak ada salahnya seorang community worker menghubungi Lembaga Swadaya Masyarakat atau organisasi non-pemerintah sejenis yang bergelut dibidang yang akan ditangani oleh si community worker untuk memudahkan misi mereka.

Fase Pengembangan Kontak dengan Komunitas (Contact-making) merupakan fase selanjutnya yang penting karena disini para pekerja komunitas harus mengembangkan relasi dengan komunitas yang lebih bermakna. Maksudnya, dalam tahapan ini untuk menguji lagi apakah hubungan mereka dengan komunitas sasaran dapat mengarah kepada relasi yang konstruktif atau sebaliknya.

Fase yang ketiga adalah Pengumpulan Data dan Informasi (Data and Informationn Gathering). Seorang tokoh Twelvetrees mengungkapkan bahwa ada dua bentuk informasi yang dapat digunakan oleh para aktivis, yang pertama adalah informasi baku adalah data-data yang dapat diperoleh dari berbagai laporan resmi, baik yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah ataupun organisasi non-pemerintah. Dan yang kedua adalah informasi lunak yang diperoleh dari partisipan ataupun pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang sedang dibahas. Berbeda dengan informasi baku, informasi lunak tentunya lebih bersifat subjetif karena tidak jarang banyak memunculkan opini individual.

Tahapan berikutnya ada Perencanaan dan Analisis (Analysis and Planning). Pada fase ini, aktivis serta partisipan menggunakan kelompok kerja sebagai kelompok utama dalam menganalisis dan mengkaji pokok permasalahan yang akan ataupun sedang mereka bahas. Setelah itu mereka bisa menentukan tujuan khusus dari pergerakan yang akan mereka lakukan. Karena mereka hanya fokus pada satu topik tertentu saja, maka tidak heran bila mereka hanya akan memilih satu obyek.

Fase kelima ada Pelaksanaan (Implementing). Pelaksanaan aksi komunitas sebagian besar merupakan aksi yang langsung dan berkonfrontasi dengan pihak yang mereka identifikasikan sebagai lawan mereka. misalnya, aksi unjuk rasa dari para pekerja Nike. Namun, bagi mereka yang memilih pendekatan konsensus akan melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan pihak Dewan Perwakilan Rakyat atau sejenisnya untuk menyampaikan tuntutan mereka.

Dan fase yang terkahir adalah Fase Negosiasi (Negotiating) yang merupakan kegiatan antara wakil-wakil dari komunitas yang melakukan tuntutan dan wakil dari pihak yang dituntut. Proses negosiasi bukanlah kegiatan yang gampang sehingga tidak jarang dalam proses ini terjadi ketidak tercapainya kata sepakat bila masing-masing pihak bersikeras dengan tuntutan yang mereka miliki.

 

Daftar Pustaka

Isbandi Rukminto Adi. 2008. Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Miftah Thoha. 2003. Pembinaan Organisasi: Proses Diagnosa dan Intervensi. Yogyakarta: Fisipol Universitas Gajah Mada.

KAPITALISME

NAMA            : WINANDA RIZKY ANNISA

NIM                : D0313081

KELAS           : SOSIOLOGI A

 

Gerakan kapitalisme mulai muncul dari zaman feodal, lalu zaman renessaince yang mulai berfikir untuk melepaskan diri dari belenggu feodal, dan kemudian puncaknya pada saat demokrasi, yaitu paham kebebasan. Dengan paham kebebasan itulah timbul semangat untuk menciptakan karya dan mengembangkan kemampuan diri individu. Dalam bidang agama mucul gerakan reformasi, bidang penalaran lahir ilmu pengetahuan, dan dari bidang ekonomi memunculkan sistem kapitalisme. Pada saat renessaince asas kepemilikan mulai menjadi kepemilikan perorangan, bukan lagi negara. Kepemilikan perorangan ini yaitu berupa alat-alat produksi yang digunakan sebagai kegiatan distribusi untuk mencari laba yang sebesar-besarnya yang akan dijadikan modal kembali sehingga munculah persaingan antar perorangan dan inilah cikal bakal kota-kota mulai tumbuh di Eropa. Dari adanya peningkatan perdagangan disana akan menyebabkan munculnya industri-industri baru dan mereka berkembang pesat yang menghasilkan sistem perekonomian baru, yaitu kapitalisme.

Kapitalisme didefinisikan sebagai suatu organisasi komersial, dimana dua kelompok orang yang berbeda dihubungkan melalui pasar dan kerjasama secara tetap. Pemilik alat-alat produksi yang pada waktu bersamaan mengendalikan dan menjadi subyek ekonomi, dan orang yang tidak mempunyai kekayaan selain tenaga kerja selaku obyek ekonomi atau suatu organisasi yang ditentukan oleh prinsip yang memperdayakan dan oleh rasionalisme ekonomi. Kapitalisme hadir dan berkembang sebagai suatu bagian dari gerakan besar individualisme. Manusia tidak lagi bekerja hanya berlandaskan kewajibannya dalam mengabdikan diri, tetapi atas kebutuhan mencari uang. Kapitalisme meletakkan dirinya sebagai kebebasan, dalam ekonomi dikenal dengan adanya kelas borjuis dan kelas proletar yang terjadi karena adanya perbedaan penguasaan, dimana mereka kaum borjuis lah yang memiliki modal besar sedangkan kaum proletar diibaratkan sebagai buruh yang dieksploitasi pihak borjuis demi membantu mereka dalam menumpuk kekayaan.

Flanders dan Florence merupakan dua kota yang menjadi tonggak berdirinya sistem kapitalis, yaitu dengan industri wol. Industri tersebut dapat berkembang dengan pesat karena bahan mentah wol yang mudah diperoleh di dalam negeri dan juga mulai adanya inovasi dalam bidang pemintalan dengan mesin. Sehingga dapat dikatakan bahwa industri wol merupakan pelopor kapitalisme sebagai sistem sosial dan ekonomi serta untuk pertama kalinya membuat sistem kapitalisme mulai tumbuh dan berakar di Inggris.

Seorang tokoh Weber beragumen mengenai Protestanisme Puritan, khususnya Calvinisme. Weber melihat adanya kaitan adntara kehidupan para penganut Calvinis yang telah diberi pedoman oleh agama mereka dengan jenis perilaku dan sikap yang diperlukan bagi kapitalisme agar dapat bekerja dengan efektif. Calvinis lebih memusatkan dirinya pada pekerjaan duniawi dan pada saat yang bersamaan juga dituntut untuk mewujudkan aspek kehidupan yang asketik, yaitu suatu gaya hidup khas bagi agama-agama Puritan yang sederhana, rajin beribadah, dan hidup hemat. Sehingga, para penganut Calvinis ini percaya bahwa mereka tidak akan diberikan keselamatan oleh Tuhan kecuali bila mereka sukses dan produktif dalam hidup. Oleh sebab itu kehidupan haruslah didedikasikan untuk memaksimalkan produktivitas kerja mereka. Tetapi yang perlu diingat bahwa simbol pencapaian, kekayaan materi yang dikumpulkan melalui kerja keras terus-menerus secara efisien tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan karena melanggar kebijakan asketiknya.

Disinilah keterkaitannya dengan paham kapitalisme, bekerja untuk mengumpulkan modal lagi yang harus diakumulasi dan tidak untuk dikonsumsi secara berlebihan melainkan diinvestasikan kembali untuk mengembangkan teknik-teknik produksi yang lebih efisien demi memperoleh keuntungan yang lebih besar dan banyak. Semakin banyak kekayaan yang dikumpulkan maka semakin sukses pula perusahaan kapitalis tersebut sehingga sumber daya yang tersedia pun akan semakin banyak guna untuk memperbaiki efisiensi produksi. Dari sinilah kemudian muncul yang namanya merkantilisme, yaitu paham ekonomi dengan tujuan untuk menambah logam mulia baik itu emas maupun perak sebanyak mungkin dan berusaha untuk memperoleh neraca perdagangan yang surplus. Dengan demikian, negara ikut mengawasi perkembangan perekonomian dan ikut campur dalam dunia usaha dan perdagangan. Paham merkantilisme ini juga bersamaan dengan lahirnya paham imperialisme kuno yang berambisi untuk mencari daerah jajahan dengan tujuan utamanya menguasai perdagangan secara monopoli guna mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dalam bentuk logam mulia.

Karl Marx berpendapat bahwa kapitalisme berkembang dan terikat pada tumbuhnya kota-kota. Ia menekankan pentingya kemunculan revolusioner sebagai hasil dari gerakan perkotaan yang akhirnya memperoleh otonomi administratif yang tinggi tingkatannya. Zaman kuno sebagai persamaannya, perkembangan di pusat-pusat perkotaan sejalan dengan pembentukan modal dagang dan modal para lintah darat, dan suatu sistem moneter yang digunakan oleh mereka bagi perdagangan.

Pada abad ke-18 kapitalis mulai bergeser dari perdagangan ke ranah industri atau tepatnya pada masa Revolusi Indutsri. Disini mulai terlihat perubahan-perubahan teknologi yang terjadi secara meluas dan drastis. Namun bagi mereka yang berkapital relatif kecil, industri kecil di Inggris tetap berlangsung sebagai industri pedesaan atau industri rumah tangga. Perubahan dalam bidang teknologi ini memindahkan industri ke pusat-pusat perkotaan. Dalam hal ini kapitalisme sebagai penggerak yang paling terasa karena akumulasi modal yang memungkinkan penggunaan penemuan-penemuan baru. Misalnya saja Richard Arwright yang mendapatkan modal untuk membiayai modal organisasi pabriknya yang ia perlukan dalam pemanfaatan mesin-mesin baru. Smith menganjurkan untuk memberikan kesempatan kepada para kekuatan pasar untuk mengelola dan mengatur dirinya sendiri secara bebas, karena menurutnya keuntungan pribadi akan lebih tepat bila dipegang oleh dirinya sendiri. Mengingat bahwa prinsip dasar paham kapitalisme ini adalah kepemilikan pribadi, mencari keuntungan atau laba, serta persaingan yang bersifat bebas. Pada periode kapitalisme klasik ini sukses mengangkat para kaum borjuis ke posisi yang amat penting.

Dengan adanya perkembangan teknologi yang teramat pesat menimbulkan revolusi teknologi hadir di kota-kota Inggris. Semua industri ingin memperoleh kekayaan sehingga munculah konflik atas dasar persaingan. Perang Dunia I adalah penanda bagi titik balik perkembangan kapitalisme. Dulu sebelum perang, kapitalisme di Eropa menjalankan kepemimpinan yang kuat dalam perekonomian internasional. Pada era ini pasar dalam dunia internasional mulai berkembang, standar emas hampir menjadi universal dan menyebabkan negara Eropa menjadi bank dunia.

Namun, setelah Perang Dunia I mulai berbalik arah. Pasar internasional mulai mengalami penurunan, standar emas pun juga mulai ditinggalkan serta alat pembayaran nasional yang terkendali mulai lebih disukai, pusat bank yang semula berada di Eropa kini dipindahkan ke Amerika Serikat. Eropa barat yang dikenal sebagai satu kesatuan kini mulai surut, bahkan Eropa Timur mulai melemah. Terlebih lagi semangat yang ditimbulkan oleh Revolusi Rusia berhasil menantang keunggulan organisasi kapitalis sebagai sistem produksi. Padahal di Eropa barat cenderung menggunakan struktur intern ekonomi dan menjauhi bentuk-bentuk kapitalis tradisional.

Kapitalisme dibedakan menjadi dua, yaitu kapitalisme tua dan kapitalisme modern. pada kapitalisme tua yang terjadi disana adalah persaingan bebas, banyak sekali monopoli-monopoli dagang dan ekspor modal yang terjadi. Namun pada masa kapitalisme tua sering sekali terjadi gagal panen, wabah epidemi yang meluas, peperangan, serta perpindahan jalur-jalur perdagangan. Namun, berbeda dengan kapitalisme modern, yang menjadi kendala adalah cara produksinya. Mereka kaum industri mengadakan produksi secara besar-besaran untuk pasar yang belum diketahui dengan maksud agar dapat memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam hal ini produksi bukan diadakan atas dasar barang apa yang akan dan yang dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi mereka lebih memikirkan barang apa yang bisa memberikan keuntungan yang besar bagi kaum mereka, kapitalis.

Secara singkat, kapitalis dalam perkembangannya bisa dipersingkat menjadi tiga masa. Awalnya di beberapa kota di Eropa Barat, para kompeni dagang memperbesar kapitalnya dengan transaksi dagang dan laba yang mereka peroleh digunakan utnuk mengadakan transaksi lagi dan begitu seterusnya, inilah yang disebut kapitalisme dagang. Setelah Revolusi Industri, kapitalisme dagang meningkat menjadi taraf yang lebih tinggi yakni mulai masuk dalam kapitalisme industri. Kapitalisme industri ini muncul ketika industri yang telah dimekanisasi lebih menguntungkan bagi pihak penanam modal. Setelah itu kapitalisme berkembang lagi ke taraf yang ketiga yaitu kapitalisme keuangan, dimana bank memegang peranan yang amat penting dan pada taraf ini pula kapitalisme sudah berkembang sampai tingkat super monopoli.

Asas pokok dalam masyarakat kapitalis adalah perdagangan bebas yang disertai dengan persaingan antar kapital dimana para kapital-kapital ini mengejar keuntungan agar dapat mencapai laba yang sebanyak-banyaknya. Untuk itu para pengusaha ini harus dapat menguasai pasaran dan menjual hasil produksinya dengan harga yang murah.

Daftar Pustaka

Andrik Purwasito. 2011. Pengantar Studi Politik. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.

Leo Agung. 2013. Sejarah Intelektual. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Retno Winarni. 2014. Sejarah Pemikiran Modern. Yogyakarta: LaksBang Pressindo.

GENDER DAN PEMBANGUNAN

Bila kita berbicara tentang gender, pasti akan ada isu yang menuntut keadilan konstruksi sosial maupun kultural antara kaum laki-laki dengan perempuan. Tuntutan konstruksi ini bisa keseimbangan fungsi, status, serta hakekat antar jenis kelamin yang diharapkan dapat direalisasikan. Diharapkan gender dan pembangunan adalah suatu korelasi timbal balik yang terjadi antara satu dengan yang lainnya. Karena tujuan utama dari pembangunan adalah kesejahteraan. Dan dalam hal ini kesejahteraan selalu dikaitkan dengan adanya keadilan.

Muncul banyak pendapat yang memperdebatkan gender dan pembangunan. Yang pertama muncul dari kaum Feminisme Liberalis, mereka mengatakan bahwa dalam pembangunan harus ada keharmonisan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain dan partisipasi dalam pembangunan seharusnya mengikuti pada konsep struktur fungsionalisme. Artinya, adanya partisipasi adalah hasil dari kemauan orang itu sendiri, bukan atas suruhan pihak lain. Pendapat kedua dari Feminisme Radikalis. Kaum ini melihat partisipasi kaum perempuan dalam pembangunan masih dipinggirkan, semua kesalahan dan penyebab diletakkan pada faktor seks dan mereka ingin menghancurkan hegemoni patriokal. Yang terakhir muncul dari kalangan Feminisme Sosialis. Sebenarnya kaum ini membenarkan faktor hegemoni patriokal sebagai suatu penyebab, namun tidak secara ekstrim seperti radikalis. Sosialis lebih menuntut adanya mekanisme struktur yang mana seharusnya ada dan harus disediakan bagi kaum feminis. Mekanisme struktur ini terinspirasi dari paham Marxisme, yakni dominasi kapitalis sebaiknya tidak ada dan yang ada adalah suatu hidup bersama tanpa ada dominasi.

Dari berbagai hasil riset yang membahas tentang perempuan dan pembangunan, menunjukkan bahwa adanya pembangunan akan menimbulkan dampak buruk bagi pihak perempuan. Padahal dibeberapa daerah menerapkan konsep pembangunan dengan konsep barat yang mengubah struktur ekonomi yang tradisional dan menggantikannya dengan yang lebih modern, atau lebih dikenal struktur ekonomi industri. Sehingga munculnya teknologi baru secara besar-besaran yang justru akan menimbulkan dampak negatif pada pihak perempuan. Misalnya saja modernisasi dalam lingkup pertanian yang menggunakan teknologi baru serba mesin, ini akan menghilangkan kesempatan kerja bagi perempuan dan mengubah sistem pembagian kerja berdasarkan gender yang memunculkan pula gejala reduksi peran ekonomi perempuan. Gejala reduksi ini bisa seperti penurunan status perempuan di dalam masyarakat.

Perempuan cenderung masih dijadikan obyek dalam program pembangunan, dan dianggap belum dapat berperan secara maksimal baik sebagai pelaku maupun penikmat pembangunan itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan upaya dan strategi mengintegrasikan gender ke dalam arus pembangunan dengan cara menempatkan perempuan sebagai subyek pembangunan dan menghilangkan faktor kendala yang dihadapi perempuan dalam pembangunan. Peran perempuan dalam pembangunan yaitu memberdayakan potensi dirinya dan mengaktualisasikan motivasi intelektualnya, karena perempuan bukan hanya sekedar sebagai agen saja tetapi juga sebagai penggerak pembangunan.

Program pemberdayaan perempuan dalam mengatasi isu gender ini telah dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pendekatan Women in Development (WID), lalu berkembang menjadi Women and Development (WID), dan sampai pendekatan Gender and Development (GAD) yang sudah dilengkapi dengan strategi pengarusutamaan gender atau gender meintreaming.
Women in Development (WID) berlandaskan teori modernisasi dan feminis liberal yang bertujuan untuk mengintegrasi wanita dalam proses pembangunan. Pendekatan ini lebih menekankan persamaan kesempatan untuk wanita atau dalam kata lain untuk meningkatkan pendapatan kaum wanita, yang berpijak pada dua sasaran, yaitu pentingnya prinsip egalitarian dan menitikberatkan pada pengadaan program yang dapat mengurangi atau menghapuskan diskriminasi yang dialami oleh para perempuan di sektor produksi. Selain meningkatkan pendapatan bagi pihak perempuan, dengan pendekatan ini diharapkan mendorong perempuan untuk memasuki dunia publik. Pendekatan ini sudah bisa diterima dan mulai diterapkan secara internasional sebagai penekanan strategis dengan sasaran mencapai integrasi perempuan dalam semua aspek proses pembangunan. Namun ternyata pendekatan ini dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari diskriminasi dan ketidakadilan, sehingga mengabaikan hubungan dan relasi sosial antara laki-laki dan perempuan. Banyak sekali kendala atau kelemahan-kelemahan yang dijumpai WID. Hasil tinjauan unit-unit masalah perempuan pemerintah yang seringkali dengan sumber daya dibawah rata-rata dan sangat marjinal menunjukkan bahwa mereka telah tidak dapat secara ekfektif mempengaruhi kebijakan nasioanl atau membawa kesejajaran gender. Banyak proyek-proyek yang hanya untuk perempuan didanai secara kurang dan kadang-kadang mereka masih saja dibebankan pekerjaan yang berat padahal pekerjaan itu hanya diberi imbalan yang kurang pula.

Atas dasar itulah muncul pendekatan baru Women and Development (WAD) yang berpijak pada pandangan feminis yang kuat pada analisis kelas sosial dan eksploitasi di negara dunia ketiga. Pendekatan ini mengacu pada teori dependesiaa dimana pada konteks global, negara-negara berkembang semakin berkembang melalui eksploitasi negara-negara yang menjadi peripernya. Pada tahun 1970an pendekatan ini mulai berkembang karena melihat keterbatasan dari modernisasi itu sendiri. Dalam era ini perempuan sudah mulai berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Pendekatan WAD ini berasumsi baik perempuan yang dibayar atau tidak dibayar dalam bekerja sama pentingnya dalam pembangunan, karena mereka percaya bahwa dibawah kapitalisme global, penekanan terhadap perempuan tidak akan berakhir. Seperti halnya WID, ternyata WAD juga masih gagal dalam menganalisa antara patriarki dan subordinasi perempuan. Walaupun demikian, setidaknya WAD telah berhasil menggeser wanita untuk semakin produktif atas dasar korbanan sisi reproduktif dari kerja dan kehidupannya.

Untuk kemudian muncul pendekatan baru yang memperbaiki dua pendekatan sebelumnya dengan mengakui pentingnya analisis kelas, ras, gender dan pembangunan sebagai salah satu masalah yang harus menjadi pusat perhatian, adalah Gender and Development (GAD). Pendekatan ini juga dikatakan sebagai suatu pendekatan yang sepenuhnya menggunakan analisis gender dan tidak menyalahkan korban ketidakadilan serta memberi perhatian kepada ideologi yang dianut baik oleh pihak laki-laki maupun perempuan yang sangat berpengaruh dalam kebijakan pembangunan. Dasar dari pendekatan ini adalah feminisme sosialis yang melihat sektor produksi dan reproduksi sebagai basis penindasan perempuan. Ini berarti GAD tidak hanya memperhatikan perempuan, tetapi juga pada konstruksi sosial gender dan pemberian peran tertentu pada perempuan dan laki-laki. Pendekatan ini ingin menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender. Untuk itu perlu dicanangkan pemberdayaan dan perubahan struktur gender. Keberhasilan pendekatan ini dapat dilihat melalui lahirnya kebijakan global yang monumental bagi perjuangan kaum perempuan, yakni Convention on the Elemination of all Form of Discrimination Againts Women.

Gender jelas berbeda dengan jenis kelamin yang bersifat biologis. Yang dianggap feminim pada suatu kebudayaan yang satu belum tentu juga dianggap feminim di kebudayaan yang lain. Dalam mengisi pembangunan dibutuhkan kesejajaran antara kedua jenis kelamin agar tidak menimbulkan pembangunan dengan hasil yang timpang. Pembangunan dengan orientasi pada peningkatan kualitas manusia lebih menekankan pada upaya menempatkan manusia dalam proses pembangunan. Dengan kata lain, diperlukan adanya pemberdayaann bagi kaum perempuan dan imbauan pada kaum laki-laki untuk turut serta dalam melakukan pekerjaan rumah tangga, sehingga pembangunan yang berwawasan gender dapat semakin digalakkan dengan baik.

Daftar Pustaka
Trisakti Handayani dan Sugiarti. 2001. Konsep dan Teknik Penelitian Gender. Malang: Universitas Muhammadiyah.
Partini. 2013. Bias Gender dalam Birokrasi Edisi Kedua. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.

KONSEP INTERAKSI

NAMA           : WINANDA RIZKY ANNISA

NIM                : D0313081

KELAS          : SOSIOLOGI A

 

Interaksi sosial merupakan penghubung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok lainnya baik secara langsung maupun tidak. Syarat utama terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial serta komunikasi sosial antara kedua belah pihak. Seorang tokoh Sosiologi, George Herbert Mead, interaksi membuat dia mengenal dunia dan dia sendiri atau yang sering kita kenal dengan konsep pikiran (mind) dan diri (self). Disini, pengambilan peran pun terjadi, dimana ia membayangkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba untuk memahami apa yang diharapkan orang tersebut terhadap dirinya. Hanya dengan menyerasikan diri dengan harapan-harapan orang lain, interaksi akan terjadi.

Herbert Blumer berusaha memadukan konsep-konsep Mead ke dalam suatu teori yang sekarang terkenal dengan nama Interaksionisme Simbolik. Interaksi manusia dijembatani oleh adanya penggunaan simbol-simbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain tersebut. Sehingga, setiap individu tidak hanya bereaksi pada tindakan yang dilakukan orang lain, tetapi ia harus menafsirkan serta mendefinisikan terlebih dahulu setiap tindakan orang yang ditujukan kepadanya yang kemudian akan menciptakan sebuah respon baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya, bila seseorang murid mengangkat tangannya saat pelajaran berlangsung, disitu seorang guru dituntut untuk mengerti maksud dan arti dari simbol tersebut.

Yang pertama, ia mengemukakan sebuah konsep “diri”. Seorang manusia mampu memandang dirinya sebagai obyek pemikirannya dan bergaul atau berinteraksi dengan dirinya sendiri. Diri menuntut adanya komunikasi sehingga diri muncul dan berkembang melalui aktivitas dan hubungan sosial. Mustahil seseorang membayangkan diri yang muncul dalam ketiadaan pengalaman sosial, tetapi setelah diri berkembang, ada kemungkinan baginya untuk terus ada tanpa kontak sosial. Sehingga, “diri adalah di mana orang memberikan tanggapan terhadap apa yang ia tujukan kepada orang lain dan di mana tanggapannya sendiri menjadi bagian dari tindakannya, di mana ia tak hanya mendengarkan dirinya sendiri, tetapi juga merespon dirinya sendiri, berbicara dan menjawab dirinya sendiri sebagaimana orang lain menjawab kepada dirinya, sehingga kita mempunyai perilaku di mana individu menjadi objek untuk dirinya sendiri” (1934/1962: 139).

Konsep yang kedua adalah konsep perbuatan (action). Perbuatan manusia itu dibentuk melalui proses interaksi dengan dirinya sendiri dan itu yang membedakannya dengan makhluk yang bukan manusia. Manusia itu merupakan konstruktor kelakuannya. Ia merancang semua perbuatannya.

Yang ketiga adalah konsep obyek. Manusia hidup ditengah-tengah obyek. Disini “obyek” dimaknai dalam arti luas dan meliputi semua yang menjadi sasaran perhatian manusia. Objek dapat berarti semua benda hidup, benda mati, benda khayalan, benda nyata, benda fisik, benda abstrak, dan lain sebagainya. Inti hakikat obyek-obyek ini tidak ditentukan oleh ciri-ciri intrinsiknya, tapi oleh minat dan arti yang dikenakan kepada obyek-obyek itu.

Keempat, konsep interaksi sosial. Interaksi berarti para peserta memindahkan diri mereka secara mental ke dalam posisi orang lain. Dengan demikian, mereka mencoba mencari arti dan maksud yang oleh pihak lain diberikan kepada aksinya, sehingga komunikasi dan interaksi dimungkinkan. Jadi, interaksi tidak hanya dilakukan oleh gerak-gerak saja, melainkan melalui simbol-simbol yang perlu dipahami dan dimengerti artinya. Kata Blumer, “orang menimbang perbuatan masing-masing orang secara timbal-balik, dan hal ini tidak hanya merangkaikan perbuatan orang yang satu dengan perbuatan orang yang lain, melainkan menganyam perbuatan-perbuatan mereka menjadi apa yang barangkali boleh disebut suatu transaksi, dalam arti bahwa perbuatan-perbuatan yang diasalkan dari masing-masing pihak diserasikan, sehingga membentuk suatu aksi bersama yang menjembatani mereka” (Blumer, 1953: 194).

Kelima, konsep joint action. Artinya adalah aksi kolektif yang lahir dimana perbuatan-perbuatan masing-masing peserta dicocokkan dan diserasikan satu sama lain. Contohnya dalam makan bersama keluarga, transaksi dagang, diskusi sidang pengadilan, dan sebagainya. Masing-masing pihak mencoba mencari arti dan maksud dalam perbuatan orang lain dan memakainya dalam menyusun kelakuannya. Inti joint action adalah penyerasian dan peleburan banyaknya arti, tujuan, pikiran, dan sikap.

Interaksionisme simbolik menggambarkan masyarakat bukanlah dengan memakai konsep-konsep seperti sistem, struktur sosial, posisi status, peranan sosial, pelapisan sosial, struktur institusional, pola budaya, norma-norma, dan nilai-nilai sosial, melainkan dengan memakai istilah “aksi”. Masyarakat, organisasi atau kelompok terdiri dari orang-orang yang menghadapi keragaman situasi dan masalah yang berbeda-beda. Masalah tersebut harus dipecahkan sehingga suatu siasat bersama harus segera disusun, yaitu solusi. Maka muncullah suatu gambaran masyarakat yang dinamis, bercorak serba berubah dan pluralistis. Orang saling berhubungan satu sama lain dan saling menyesuaikan kelakuan mereka secara timbal-balik. Mereka “tidak bertindak dengan berpedoman pada suatu kebudayaan, struktur sosial dan sebagainya, melainkan dengan menghadapi situasi-situasi ….. Ciri-ciri struktural seperti kebudayaan, pelapisan sosial atau peran-peran sosial menyediakan kondisi-kondisi tindakan mereka, tetapi tidak menentukannya” (Blumer, 1969: 88).

DAFTAR PUSTAKA

 

Veeger, K.J. 1985.  Realitas Sosial. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Zeitlin, Irving M. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

PERSPEKTIF INTERAKSI

NAMA : WINANDA RIZKY ANNISA

NIM : D0313081

TAHUN ANGKATAN : 2013

KELAS : SOSIOLOGI A

Interaksi sosial merupakan fenomena yang sering terjadi di masyarakat, dimana itu merupakan penghubung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok lainnya baik secara langsung maupun tidak. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Untuk itu dibutuhkan adanya interaksi dengan individu maupun dengan masyarakat yang lain. Syarat utama terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial serta komunikasi sosial antara kedua belah pihak. Berlangsungnya proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor, antara lain faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan bergabung.

Dalam interaksi sosial terdapat proses sosial, dimana peran dari proses tersebut sangatlah penting. Proses sosial dapat didefinisikan sebagai cara atau metode subjek sosial untuk saling berhubungan sehingga memungkinkan terbentuknya suatu sistem dan bentuk-bentuk hubungan tersebut, serta pengaruh timbal balik yang terjadi diantara keduanya. Contohnya saja bagaimana sebuah sistem politik dan sistem ekonomi itu saling pengaruh-mempengaruhi.

Hidup bermasyarakat adalah usaha manusia itu sendiri. Manusia membentuk dan dibentuk oleh hasil karyanya sendiri, yaitu masyarakat. Manusia diberi dua pilihan, yaitu hidup sendiri atau hidup dengan orang lain. Mereka dituntut untuk memikirkan bagaimana caranya mereka hidup agar tidak hancur, meskipun mereka diberi kebebasan untuk itu. Dengan itu, maka akan ada relasi timbal-balik antara individu dengan masyarakatnya. Di satu pihak individu ikut membentuk dan menegakkan masyarakat, dan di lain pihak masyarakat menghidupi individu.

Seorang tokoh Sosiologi George Simmel yang menjauhkan diri dari organisisme, dan memberi status ontologis pada realitas sosial beranggapan bahwa realitas sosial berdiri diluar individu. Masyarakat terdiri dari jaringan relasi-relasi antara orang yang menjadikan mereka bersatu. Masyarakat merupakan sejumlah pola perilaku yang disepakati dan ditunjang bersama. Simmel menegaskan bahwa tidak tiap-tiap interaksi dapat disebut hidup bermasyarakat bila orang bertemu dijalan dan sepintas-lalu memandang satu kepada yang lain, mereka tidak bermasyarakat. Mereka baru bisa dikatakan sebagai bermasyarakat bila mereka saling mempengaruhi, misalnya saja mereka saling menyapa sehingga terjadi timbal-balik antar keduanya. Relasi-relasi yang aktif antara orang yang berkelompok atau bermasyarakat akan mengarah pada terbentuknya community, yaitu Gemeinschaft (paguyuban) serta association, yaitu Gesselschaft (patembayan). Suatu interaksi sosial dapat dikatakan berhasil dan mempunyai fungsi positif bila ia membentuk sebuah kerjasama (asosiatif) yang meliputi akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Sebaliknya bila interaksi itu gagal maka akan membentuk persaingan atau kompetisi (disosiatif) yang mencakup persaingan, kontravensi, serta pertentangan atau pertikaian. Namun, tidak selamanya sebuah persaingan itu mempunyai fungsi yang negatif, karena dari persaingan itulah individu atau kelompok berubah pola tingkah lakunya kearah yang lebih baik dan menjadikan mereka lebih mempunyai sifat solidaritas yang tinggi pula karena adanya tujuan yang sama. Misalnya saja dalam persaingan dua restoran Sea Food, keduanya akan sama-sama melakukan inovasi-inovasi terbaru untuk makanannya agar ramai oleh pelanggan. Simmel juga mengatakan ada kelompok yang mempunyai frekuensi interaksi dan kadar integrasi yang tinggi, namun ada pula yang kedua-duanya rendah. Semakin sering mereka dipertemukan dalam relasi-relasi timbal-balik maka semakin cepat pula relasi-relasi itu dilembagakan, yang kemudian dikenal dengan istilah pranata.

Beda halnya dengan C.H. Cooley yang memandang interaksi antara individu dan kelompok. Ia mengatakan, orang-orang yang berinteraksi menggunakan simbol-simbol, yaitu tanda, isyarat, dan kata-kata baik berupa tulisan maupun lisan. Namun, sebuah kata tidak akan mempunyai makna dalam kata itu sendiri, tapi hanyalah bunyi. Dan kata itu baru memiliki makna apabila semua orang sependapat bahwa bunyi atau kata tersebut mempunyai arti khusus. Bagaimana eratnya kesatuan antara masyarakat dan individu, dapat kita lihat dari contoh bahasa. Bahasa merupakan pengungkapan sosialitas dan individualitas manusia sekaligus. Sejauh satu bahasa dimiliki dan dipakai bersama, ia mengungkapkan kesosialan manusia, memampukan orang untuk berkomunikasi dan bertindak sebagai manusia, tetapi sejauh tiap-tiap orang memakai bahasa itu dengan nada, variasi, dan modifikasi pribadi, ia membuktikan individualitas manusia juga.

DAFTAR PUSTAKA
Veeger, K.J. 1985. Realitas Sosial. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Hello world!

Welcome to Blogger Fisip UNS Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!